Assalamu'Alaikum Wr.Wb.

Pada sang bayu kutitipkan salam cinta penuh kerinduan, tuk ayah ibu kuhaturkan ♥
Terucap dari hati dengan kecintaan, padamu ridho kuharapkan ♥
Salam kasih sahabatku, lewat dunia maya kumenyapamu ♥
Meski tak pernah bertemu, dekat di hati kuharap selalu ♥
Salam hangat kuberikan, padamu wahai Sahabat ♥
Jarak dan waktu telah memisahkan, kurindu kebersamaan ♥
Salam indah duniaku, indahkanlah hari-hariku, berikan senyuman untukku ♥
Tuk menyapa orang terdekatku, berikan mereka bahagia selalu ♥

Jumat, 17 Oktober 2014

Rasa Ini



Rasa gelisah yg tak bisa terhentikan
Rasa yg seakan tak bisa terbendung lagi
Rasa takut,  khawatir, dan tak tenang
Berjuta pertanyaan yg datang, namun tak bisa kujawab
Begitu banyak rahasia yg tak bisa kuungkap
Meski aku bersikukuh tuk mencari jawaban atas semua ini
Namun aku manusia biasa dan punya kemampuan yg terbatas
Wahai sang pemilik Rasa yg mengetahuai atas segala rahasia
Beri petunjukMu, luaskan jalanMu, agar semua terungkap.
Rasa inipun jadi tenang dan pastinya bahagia

By: A.Hartawati

Efektivitas Hukum dalam Masyarakat (Prespektif Sosiologi Hukum)



Masyarakat memerlukan sebuah aturan untuk menciptakan suatu suasana yang harmonis didalam kehidupannya. Aturan tersebut berupa hukum, hukum yang ada dapat merupakan hukum tertulis atau tak tertulis. Hukum yang ada dalam masyarakat ini hendaknya memiliki sebuah dasar hukum yang menjiwai dari keadaan seluruh masyarakaat, memiliki fungsi yang ideal dengan memiliki unsur keadilan, kepastian dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Dibuatnya suatu produk hukum yang nantinya akan hidup bersama didalam masyarakat, maka hukum yang dibuat itu memiliki suatu sifat dinamis yang berarti mengikuti perkembangan dari masyarakat. Sehingga adanya sebuah sosiologi hukum itu merupakan ilmu pengetahuan tentang interaksi manusia yang berkaitan dengan hukum didalam kehidupan masyarakat. Nantinya dengan adanya sosiologi hukum ini maka akan diharapkan sebuah kemanfaatan didalamnya, sehingga kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan hukum yang ada didalam masyarakat, mengetahui efektivitas hukum dalam masyarakat, mampu untuk menganalisa penerapan hukum yang ada didalam masyarakat, dapat mengkonstruksikan fenomena hukum yang terjadi di masyarakat, dan mampu memetakan masalah-masalah sosial dalam kaitan dengan penerapan hukum di dalam masyarakat.
Hukum yang dibuat dan nantinya akan berlaku di masyarakat hendaknya mampu berlaku secara efektif. Sehingga tidak terjadi suatu pemborosan atau yang nantinya menimbulkan ketidakpastian hukum didalam masyarakat. Maka hendaknya ketika hukum didalam suatu masyarakat itu akan dibuat maka memperhatikan berbagai aspek-aspek yang ada di masyarakat. Untuk mampu mengetahui bagaimana efektivitas hukum didalam sebuah prespektif sosiologi hukum mampu diterapkan. Maka dalam tulisan ini akan menjeaskan berkaitan dengan hal tersebut.
Seringkali kita mengetahui bahwa di dalam masyarakat, hukum yang telah dibuat ternyata tidak efektif didalamnya. Menurut Dr. Syamsuddin Pasamai, SH., MH., dalam bukunya Sosiologi dan Sosiologi Hukum, persoalan efektifitas hukum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan persoalan penerapan, pelaksanaan dan penegakan hukum dalam masyarakat demi tercapainya tujuan hukum. Artinya hukum benar-benar berlaku secara filosofis, yuridis dan sosiologis.[1]
Dalam sosiologi hukum, hukum memiliki fungsi sebagai sarana social control yaitu upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat, yang bertujuan terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat. Selain itu hukum juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai sarana social engineering yang maksudnya adalah sebagai sarana pembaharuan dalam masyarakat. Hukum dapat berperan dalam mengubah pola pemikiran masyarakat dari pola pemikiran yang tradisional ke dalam pola pemikiran yang rasional atau modern.
Efektivikasi hukum merupakan proses yang bertujuan agar supaya hukum berlaku efektif. Keadaan tersebut dapat ditinjau atas dasar beberapa tolok ukur efektivitas. Menurut Soerjono Soekanto bahwa faktor tersebut ada lima, yaitu :
1. Hukumnya sendiri.
2. Penegak hukum.
3. Sarana dan fasilitas.
4. Masyarakat.
5. Kebudayaan.

1. Faktor Hukum
Hukum berfungsi untuk keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Dalam praktik penyelenggaraan hukum di lapangan ada kalanya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Kepastian Hukum sifatnya konkret berwujud nyata, sedangkan keadilan bersifat abstrak sehingga ketika seseorang hakim memutuskan suatu perkara secara penerapan undang-undang saja maka ada kalanya nilai keadilan itu tidak tercapai. Maka ketika melihat suatu permasalahan mengenai hukum setidaknya keadilan menjadi prioritas utama. Karena hukum tidaklah semata-mata dilihat dari sudut hukum tertulis saja, Masih banyak aturan-aturan yang hidup dalam masyarakat yang mampu mengatur kehidupan masyarakat. Jika hukum tujuannya hanya sekedar keadilan, maka kesulitannya karena keadilan itu bersifat subjektif, sangat tergantung pada nilai-nilai intrinsik subjektif dari masing-masing orang. Menurut Prof. Dr. Achmad Ali apa yang adil bagi si Baco belum tentu di rasakan adil bagi si Sangkala.
Mengenai faktor hukum dalam hal ini dapat diambil contoh pada pasal 363 KUHP yang perumusan tindak pidananya hanya mencantumkan maksimumnya sajam, yaitu 7 tahun penjara sehingga hakim untuk menentukan berat ringannya hukuman dimana ia dapat bergerak dalam batas-batas maksimal hukuman.
Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku kejahatan itu terlalu ringan, atau terlalu mencolok perbedaan antara tuntutan dengan pemidanaan yang dijatuhkan. Hal ini merupakan suatu penghambat dalam penegakan hukum tersebut.
 
2. Faktor Penegak Hukum
Dalam berfungsinya hukum, mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan peranan penting, kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas petugas kurang baik, ada masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian penegak hukum dengan mengutip pendapat J. E. Sahetapy yang mengatakan :
Dalam rangka penegakan hukum dan implementasi penegakan hukum bahwa penegakan keadilan tanpa kebenaran adalah suatu kebijakan. Penegakan kebenaran tanpa kejujuran adalah suatu kemunafikan. Dalam kerangka penegakan hukum oleh setiap lembaga penegakan hukum (inklusif manusianya) keadilan dan kebenaran harus dinyatakan, harus terasa dan terlihat, harus diaktualisasikan”.[2]
Di dalam konteks di atas yang menyangkut kepribadian dan mentalitas penegak hukum, bahwa selama ini ada kecenderungan yang kuat di kalangan masyarakat untuk mengartikan hukum sebagai petugas atau penegak hukum, artinya hukum diidentikkan dengan tingkah laku nyata petugas atau penegak hukum. Sayangnya dalam melaksanakan wewenangnya sering timbul persoalan karena sikap atau perlakuan yang dipandang melampaui wewenang atau perbuatan lainnya yang dianggap melunturkan citra dan wibawa penegak hukum, hal ini disebabkan oleh kualitas yang rendah dari aparat penegak hukum tersebut.
Apalagi seperti yang kita ketahui bersama terkait masalah persetruan dua lembaga penegak hukum KPK dengan Kepolisian telah membuat citra aparaturnya menjadi buruk dihadapan masyarakat. Ditambah pula dengan banyaknya kasus-kasus yang seharusnya dihukum berat namun dapat diperingan karena dibantu oleh mafia hukum, yaitu muali tingkat penyidikan di kepolisian hingga saat penuntutan di kejaksaan dan putusan di kehakiman. Mental Para aparatur penegak hukum inilah menjadi salah satu faktor dimana efektivitas hukum itu dapat terwujud, selama kemapuan dan kewenangan mereka dapat dibeli, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan akan terjadi inefektivitas hukum dan mampu mengakibatkan masyarakat tidak percaya lagi dengan penegak hukum bahkan hukumnya sendiri.
Kemudian meurut Prof. Dr. Achmad Ali, SH., MH., dalam bukunya menjelajahi kajian empiris terhadap hukum, disebutkan Polisilah yang berada pada garda terdepan. Karena polisi yang paling banyak berhubungan langsung dengan warga masyarakat, dibandingkan dengan penegak hukum lainnya. Oleh karena itu sikap dan keteladanan personal kepolisian menjadi salah satu faktor dihargai atau tidaknya mereka oleh warga masyarakat terhadap penegak hukum, yang cukup berpengaruh terhadap ketaatan mereka. Olehnya itu, kualitas dan keberdayaan Polisi menurut Prof. Dr. Achmad Ali, SH., MH., merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan efektif atau tidaknya ketentuan hukum yang berlaku.
3. Faktor Sarana dan Fasilitas
Sarana yang ada di Indonesia sekarang ini memang diakui masing cukup tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang memiliki sarana lengkap dan teknologi canggih di dalam membantu menegakkan hukum. Menurut Soerjono Soekanto dan Mustafa Abdullah pernah mengemukakan bahwa bagaimana polisi dapat bekerja dengan baik, apabila tidak dilengkapi dengan kendaraan dan alat-alat komunikasi yang proporsional. Oleh karena itu, sarana atau fasilitas mempunyai peranan yang sangat penting di dalam penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak akan mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang aktual. Namun penulis berpendapat bahwa faktor ini tidaklah menjadi fakor yang dominan untuk segera diperbaiki ketika ingin terwujudnya suatu efektivitas hukum.
4. Faktor Masyarakat
Masyarakat dalam hal ini menjadi suatu faktor yang cukup mempengaruhi juga didalam efektivitas hukum. Apabila masyarakat tidak sadar hukum dan atau tidak patuh hukum maka tidak ada keefektifan. Kesadaran hukum merupakan konsepsi abstrak didalam diri manusia, tentang keserasian antara ketertiban dan ketentraman yang dikehendaki atau sepantasnya. Kesadaran hukum sering dikaitkan dengan pentaatan hukum, pembentukan hukum, dan efektivitas hukum. Kesadaran hukum merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat dalam manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan.[3]
Sebagai contoh. Disuatu daerah Kabupaten L masyarakat tahu bahwa ketika berkendara di jalan raya itu harus mengunakan helm untuk keselamatan, tapi masyarakat sekitar tersebut tidak menghiraukan peraturan tersebut justru mereka tidak menggunakan helm tersebut.
Selain itu perlu ada pemerataan mengenai peraturan-peraturan keseluruh lapisan masyarakat, selama ini terkendala faktor komunikasi maupun jarak banyak daerah yang terpencil kurang mengetahui akan hukum positif negara ini. Sehingga sosialisasi dan penyuluhan di daerah terpencil sangat dibutuhkan, berbeda dengan kondisi daerah perkotaan yang mampu selalu up date berkaitan dengan isu-isu strategis yang masih hangat.
5. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan menurut Soerjono Soekanto, mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat, yaitu mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, kebudayaan adalah suatu garis pokok tentang perikelakuan yang menetapkan peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, dan apa yang dilarang.[4]
 Kelima faktor di atas saling berkaitan dengan eratnya, karena menjadi hal pokok dalam penegakan hukum, serta sebagai tolok ukur dari efektifitas penegakan hukum. Kelima faktor yang dikemukakan Soerjono Soekanto tersebut, tidak ada faktor mana yang sangat dominan berpengaruh, semua faktor tersebut harus saling mendukung untuk membentuk efektifitas hukum. Lebih baik lagi jika ada sistematika dari kelima faktor ini, sehingga  hukum dinilai dapat efektif.
Sistematika tersebut artinya untuk membangun efektifitas hukum harus diawali untuk mempertanyakan bagaimana hukumnya, kemudian disusul bagaimana penegak hukumnya, lalu bagaimana sarana dan fasilitas yang menunjang, kemudian bagaimana masyarakat merespon serta kebudayaan yang terbangun.



[1] Dikutip dari http://ilhamidrus.blogspot.com/2009/06/artikel-efektivitas-hukum.html diakses pada tanggal 31 Desember 2009.
[3] Berkaitan dengan kesadaran hukum dikutip dari http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/sosiologi-hukum-2/sosiologi-hukum/ yang diakses pada tanggal 31 Desember 2009
[4] Dikutip dari http://ilhamidrus.blogspot.com/2009/06/artikel-efektivitas-hukum.html diakses pada tanggal 31 Desember 2009.

Jumat, 20 Desember 2013

Mencari Kebenaran dengan Hati



Kita semua diciptakan oleh Tuhan dalam wujud yang sama dengan peralatan yang sama,baik itu peralatan fisik maupun peralatan jiwa. kita sama sama diberi oleh Tuhan hati dan akal, akal merujuk kepada adanya karakter cara berfikir sistematis-mekanistis sehingga melalui akal manusia manusia bisa merumuskan segala suatu secara konseptual,misal bila manusia melihat ketertataan alam semesta maka logika akalnya akan menangkap adanya desainer dibalik ketertataan itu,karena akal akan bisa membuat rumusan bahwa ketertataan adalah suatu yang mustahil bila lahir dari kebetulan.itulah salah satu cara akal dalam menangkap adanya kebenaran yaitu menggunakan prinsip ‘rasionalitas’, dengan menggunakan kacamata sudut pandang akal nya manusia bisa memilah mana yang rasional dan mana yang tidak rasional.
(Lalu bagaimana dengan banyaknya saintis ’super pinter’ yang menolak adanya desainer dibalik ketertataan alam semesta (?) saya jawab : kepinteran bukan jaminan orang pinter menggunakan logika akalnya, sebab godaan besar orang pinter ialah ia sering tergoda masuk ke rimba pemikiran spekulatif  dan pemikiran spekulatif (cara berfikir yang tidak tertata) tentu beda jauh dengan cara berfikir rasional (cara berfikir yang tertata secara sistematis.).sebab itu terkadang logika akal seorang tukang angon kambing jauh lebih cerdas ketimbang ilmuwan kelas dunia, Coba tanya kepada beliau (tukang angon kambing) : apakah ketertataan alam semesta bisa lahir dari kebetulan (?) maka beliau pasti akan menjawab : 100 persen mustahil !
Nah ada alat berfikir lain dalam jiwa manusia yang baik kapasitas memori nya maupun kekuatan dan kecerdasannya melampaui nalar  yaitu : hati. Bila kita mengacu kepada kitab suci dan al hadits maka kita akan mengetahui identitas pasti dari hati yaitu : raja dalam jiwa.dan gelar itu pantas disandang oleh hati sebab seluruh aktivitas berfikir manusia baik itu orang beriman atau orang tidak beriman ujungnya bermuara ke dalam hati.dalam hati seluruh hasil olah fikir itu diabstraksikan menjadi keyakinan-keyakinan atau keraguan-keraguan.sebab itu bila orang menunjuk : dimana adanya keyakinan (?) maka siapapun akan mengatakan : dalam hati, tidak ada yang akan menunjuk ke kepalanya.sebab itu karena hati adalah raja maka akal pun sebenarnya berada dibawah kendali hati,bila hati seseorang berniat dan bertujuan baik maka kecerdasan akal nya akan digunakan untuk hal hal yang baik,sebaliknya bila hati seseorang berniat buruk-jahat maka kecerdasan akalnya akan digunakan untuk hal hal yang buruk dan salah,(pernah melihat maling cerdas ? nah perbuatan buruknya itu dikendalikan oleh hatinya bukan oleh akalnya)
‘Hati’ sebagai alat berfikir ditegaskan dalam ayat suci Al Qur’an : ‘mereka memiliki hati tapi tidak digunakan untuk berfikir’…………….Lalu kenapa hati sering terpinggirkan dalam urusan mencari kebenaran, bahkan mengapa hati sering tidak difahami sebagai alat berfikir, mengapa hasil olah berfikir hati sering dianggap ‘obyektif’ (?) semua itu bisa dan bisa difahami dan dimengerti,sebab di jagat ini ada dua kelompok yang cara berfikirnya terdidik oleh dua institusi yang berbeda,ada yang terdidik oleh agama dan ada yang terdidik oleh filsafat.agama tentu mendidik manusia untuk menggunakan seluruh potensi yang ada dalam jiwanya secara total-menyeluruh terutama hatinya.bahkan agama secara mendasar diawal lebih menekankan kepada mendidik bagaimana hati berfikir sebab hatilah yang kelak mengendalikan arah perjalanan hidup manusia,sehingga dalam agama hati dan akal dididik secara bersamaan karena akal tidak menentukan arah perjalanan hidup manusia sebab ia hanya alat-satelit bagi hati.fenomena demikian tidak terlihat dalam dunia filsafat yang lebih menekankan kepada penggunaan logika akal,sehingga konsep : ‘berfikir dengan hati’ kurang dikenal dalam wacana filsafat. itulah kekuatan ‘barat’ adalah kelebihannya dalam mengekploitasi cara berfikir sistematis ala nalar sehingga melahirkan peradaban ilmu materi (sains) yang berkembang sangat pesat,tapi kekurangannya adalah dalam hal cara berfikir dengan hati dimana hal demikian lah yang menjadi kelebihan ‘timur’.dan itulah makna bahwa ‘barat’ dan ‘timur’ sebenarnya harus berguru satu sama lain.
Mengapa banyak filosof pergi ke alam baka tanpa membawa keyakinan (?) (bisa jadi) mereka otaknya pintar tapi hatinya kurang cerdas dalam mengabstraksi apa yang ada dikepalanya.bisa kita bandingkan dengan para nabi yang bukan saja menangkap kebenaran dengan akalnya tapi terutama dengan hatinya, bukan kebenaran rasional semata tapi kebenaran essensial (hakiki) yang menyatu dengan keyakinan.
Cara berfikir akal adalah dengan berlogika atau cara berfikir sistematis-mekanistik dan cara berfikir seperti ini untuk sampai ke kebenaran yang jadi tujuan (yaitu .kebenaran rasional.) bisa lama bisa berliku liku,bisa harus melalui ribuan argumentasi.sedang cara berfikir hati adalah dengan apa yang disebut ‘pengertian’. kata ‘pengertian’ dan relasi nya dengan hati banyak sekali terdapat dalam amsal nabi Soelaiman dan puisi puisi nabi Daud yang indah menawan itu (keduanya berisi ajaran tentang kebenaran tapi bentuk kebenaran yang harus lebih banyak ditangkap oleh hati bukan oleh logika) dan amsal dan puisi nabi Daud itu pasti lahir dari cara berfikir hati nya bukan dari hasil berlogika semata. Dan cara berfikir hati ini bisa lebih cepat dan lebih tepat dari pada banyak berlogika tapi berujung atau terganjal oleh keragu raguan (Coba kalau Descartes menggunakan metode cara berfikir dengan hati….maaf  joke diluar bahasan…….). Ibarat naik mobil dari Bandung ke surabaya bisa nyampai bisa juga tidak bila jalan yang dilalui terlalu berliku liku malah bisa tersesat ke arah yang tidak dikenal. Begitulah cara berfikir melulu mengandalkan cara berfikir sistematis ala nalar belum tentu selalu membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan, malah bisa berujung dengan keragu raguan.
Bagaimana cara hati berfikir dan melahirkan sebuah keputusan bisa kita pelajari dari kisah nabi Solaeman yang berhadapan dengan dua orang wanita yang berebut anak : Al kisah ke hadapan nabi Solaeman datang dua orang wanita yang masing masing ngotot memperebutkan seorang bayi yang diakuinya sebagai anaknya. Nabi Soelaiman seorang bijak ia tidak terlalu banyak berlogika ala Aristoteles ( bisa terlalu kelamaan) maka nabi Soelaiman memerintahkan untuk membelah anak itu menjadi dua…..lalu (dari hasil keputusannya itu) diketemukanlah sebuah ‘kebenaran’ yaitu : siapa ibu dari bayi itu sebenarnya.
Begitulah dalam hidup anda juga bisa mengalami dan merasakan tidak semua keputusan benar-salah mesti lahir melulu hasil dari mengandalkan keputusan dari bernalar semata, misal : dalam keramaian ada seorang yang mendekati anda dengan gerak gerik mencurigakan secara reflek hati anda yang berfikir dan nalar akan berfikir refleks hanya bila digerakan oleh hati, tapi bila melulu menggunakan bernalar  akan kelamaan anda akan keburu jadi korban kejahatan sebelum nalar anda memberi hasil keputusan yang tepat.dan suatu saat pasti akan ada masalah dengan orang yang anda cintai apakah itu anak atau istri atau suami,apakah anda akan melulu menggunakan cara nalar berlogika tanpa menggunakan hati (?) bila melulu menggunakan nalar maka rasa cinta tidak akan menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan.sebab cinta-kasih sayang itu tempatnya di hati bukan di otak……….masih kurang yakin bahwa hati adalah alat berfikir yang hasil keputusannya obyektif (?) coba saja latih dan pelajari sendiri toh kita sama sama memiliki hati.hanya ada hati yang peka ada yang tidak peka ada yang hatinya cerdas ada yang kurang cerdas.
Apa ‘kebenaran’ yang keluar dari nalar (?) yaitu yang kita sebut ‘kebenaran rasional’,lalu apa yang bentuk ‘kebenaran’ yang keluar dari hati (?) banyak : keyakinan,cinta kasih-sayang,rasa cinta kepada kebenaran,cinta kepada Tuhan..dan banyak lagi (semua itu ‘obyektif’ artinya ‘ada’ atau real bila kita tidak mengukurnya dengan parameter yang biasa digunakan dalam sains).apakah ‘kebenaran’ merupakan sesuatu yang selalu harus yang bisa dijelaskan oleh nalar (?) tidak selalu.kita bisa menangkap adanya suatu bentuk ‘kebenaran’ dengan ‘pengertian’ hati kita dan cara demikian terkadang lebih cepat dan lebih tepat ketimbang menelusurinya dengan metodologi Aristoteles yang bisa memakan waktu panjang rumit dan berbelit belit……hasilnya malah…………keragu raguan…..bukankah yang kita cari adalah keyakinan yang akan kita simpan dihati dan kita bawa mati (?)..
‘kebenaran’ yang ditangkap atau yang difahami atau yang keluar dari hati bersifat subyektif (?) …..kita ambil contoh : anda memutuskan untuk menikahi seseorang,dengan apa anda ‘mengukur’ dan memutuskannya apakah dengan (cara berfikir) hati atau cara berfikir nalar dan pernahkah terbersit dalam hati anda bahwa keputusan anda itu bersifat ’subyektif’ karena ia keluar dari hati anda (?)
Para nabi dan Rasul adalah orang orang yang mendeskripsikan kebenaran tidak hanya dengan nalar sebagaimana para filosof tapi juga dengan hati.sebagai contoh : nabi Isa mengajarkan ajaran yang khas yang karakteristiknya berbeda dengan yang lain yang memang harus lebih banyak ditangkap oleh pengertian hati bukan oleh pemahaman nalar.pernahkah manusia berfikir bahwa ajaran yang dikemukakan beliau itu bersifat ’subyektif’  (?)
Apakah parameter ‘obyektif’-’subyektif’ yang biasa digunakan dalam metodologi sains cocok bila digunakan untuk mengukur dan menilai obyek yang abstrak seperti ‘hati’ atau apa yang ditangkap oleh hati-apa yang keluar dari hati serta apa yang difahami oleh hati (?) bukankah itu akan seperti meteran tukang kayu didaratan yang berupaya digunakan untuk mengukur lautan nan dalam (?)
Sesuatu yang ditangkap-difahami serta keluar dari hati seperti : keimanan, cinta kasih sayang, keyakinan,cinta Ilahi,hikmat (ilmu memaknai sesuatu dg menggunakan kacamata sudut pandang Ilahiah),dan banyak lagi untuk disebut satu persatu.semua bagi orang yang memegang-meyakini atau mencari carinya adalah suatu yang ‘obyektif’ dalam artian wujud yang pasti ada nya walau itu bersifat abstrak oleh karena itu banyak orang yang mencari carinya,untuk apa manusia mencari carinya bila itu semua adalah wujud yang ’subyektif’ (maaf bila pengertian ’subyektif’ adalah ‘tidak pasti’).
Bukankah kita mengenal dan (bila memiliki hati ) bisa mengetahui dan menangkap makna kalimat : ‘menghayati’-'merenungi’-'mendalami’, semua itu menunjuk kepada adanya aktivitas cara berfikir hati dalam jiwa manusia,dan sekaligus menunjukan adanya bentuk kebenaran tertentu yang tak bisa digapai dengan cara berfikir nalar dan karena itu manusia harus menggapainya dengan cara berfikir hati.lalu apakah semua hasil perenungan dan penghayatan itu selalu bernilai ‘ subyektif ‘ atau sesuatu yang selalu memiliki derajat ‘tak pasti’  (?) lalu buat apa hati menghayati dan merenungkan hal yang memiliki derajat yang tak pasti (?) …..silahkan direnungkan……..….dan silahkan menilai sendiri karena anda pasti memiliki hati.
Hal hal yang mesti diingat adalah dalam urusan menganalisis atau meng ‘observasi’ ‘hati’.dan apapun yang keluar dari padanya jangan menggunakan metodologi yang biasa digunakan oleh metodologi cara berfikir filsafat dalam merekonstruksi apa itu nalar dan apa (kebenaran) yang keluar dari nalar itu,sebab itu akan seperti meteran tukang kayu didaratan yang berupaya digunakan untuk mengukur lautan nan dalam.
(Tulisan ini ditulis  tiada lain agar kita yakin dan mantap dengan apa yang ada dihati kita dan selalu meyakini bahwa ‘hati’ adalah raja dalam jiwa yang akan menentukan arah perjalanan hidup kita. teringat sebuah kata bijak yang mengatakan: “Akal dapat menyesatkan namun Hati tidak dapat Berhianat, Maka dengarkanlah kata Hatimu”) ^_^